Tom Hanks dan Leonardo di Caprio, nama dua
bintang besar tersebut semestinya sudah lebih dari cukup untuk menggaransi
kualitas film ini. Akan tetapi, satu nama lagi yang bisa jadi makin dapat
meyakinkan para calon penonton bahwa film ini
benar-benar layak tonton adalah sang sutradara
tenar, Steven Spielberg. Film ini termasuk dalam genre film biografi, yang mengangkat
kisah hidup seorang mantan penipu ulung medio tahun 1960-an bernama Frank
William Abagnale Jr.
Scene awal film yang alurnya bisa dikatakan banyak
berjalan mundur ini mengisahkan Carl Hanratty (yang diperankan Tom Hanks), seorang anggota FBI, tengah bernegosiasi dengan kepolisian Prancis
untuk mengekstradisi Frank William Abagnale Jr. (diperankan Leonardo di
Caprio). Frank adalah seorang penipu yang sangat licin. Kelihaiannya dalam menipu
didukung dengan kecerdasannya yang diatas rata-rata, sekaligus ”ketekunannya”
dalam mempelajari sesuatu yang berkaitan dengan bidang yang akan dijadikannya
sarana untuk menipu.
“Karir” pertama Frank dalam dunia tipu-menipu
dimulai ketika ia pindah ke SMA bernama Bellarmine Jefferson. Frank yang baru
pertama kali masuk sekolah menanyakan ruang kelas Bahasa Prancis kepada salah
satu siswi ketika tiba-tiba dari belakang ada siswa lain yang mendorongnya
dengan sengaja. Frank merasa kesal kepadanya. Tak disangka ia ternyata adalah teman sekelas
Frank. Siswa bernama Brad itu menggoda Frank dengan mengejek tampilannya yang
terlihat seperti guru pengganti. Bingo, rupanya guru utama kelas bahasa Prancis
sedang berhalangan hadir. Frank pun memberanikan diri menyamar sebagai guru
pengganti bahasa Prancis, dan tak ada satu muridpun yang curiga kepadanya.
Merasa diatas angin, Frank gantian mengerjai Brad dengan menyuruhnya membaca percakapan bahasa Prancis di depan kelas.
Frank yang begitu sayang kepada kedua orang
tuanya harus menerima kenyataan bahwa keadaan ekonomi ayahnya yang terpuruk
mengharuskan kedua orangtuanya berpisah. Alasan yang sama mengapa mereka pindah
dari rumah lama mereka di Westbourne. Ketika pengacara perceraian Dick Kesner
menanyakan dengan siapa nanti Frank akan tinggal setelah orang tuanya berpisah,
Frank melarikan diri. Dari sinilah petualangan Frank dimulai. Perpaduan antara
keinginan besar untuk mengembalikan kejayaan ekonomi sang ayah (tentunya agar
rumah tangga orang tuanya dapat kembali), ditambah dengan ketekunan, pengalaman
dan keuletan, waktu nantinya akan melahirkan orang terhebat Amerika di bidangnya.
Maksudku, bidang tipu-menipu tentu saja. Dialah Frank William Abignale Jr.
Diawal pelariannya, dia sering ditolak di
berbagai bank ketika ingin menguangkan cek miliknya (cek itu adalah hadiah
ulang tahun dari sang ayah yang sudah diatasnamakan dirinya). Alasannya beragam
mulai dari bank yang tidak mau mencairkan uang dari bank lain, tidak mau
mencairkan dana dari orang tak dikenal. Ia bahkan pernah diusir dari hotel
tengah malam karena cek yang diberikannya kosong.
Inspirasi untuk “mengembangkan karir” didapat
Frank setelah melihat seorang pilot yang berpenampilan sangat keren, dikelilingi banyak pramugari
cantik dan dikagumi anak-anak kecil. Frank William kemudian mengaku sebagai
Frank Black dan mempunyai janji untuk mewawancarai Tuan Morgan, seorang pilot
Pan Am Airlines. Kesempatan yang tidak dilewatkan begitu saja oleh Frank. Ia
menanyakan banyak hal tentang pilot, bukan hal-hal terkait teknis tentu saja
karena memang bukan itu tujuan utamanya. Daftar pertanyaannya sangat
tendensius, seolah mengejar sebuah kesimpulan: “berapa dollar yang kudapat nantinya
jika jadi pilot?”
Yah, bagaikan trik sulap, ia jadi co-pilot Pan
Am. Anak ingusan berumur 16 tahun yang bahkan belum tamat SMA. Bermodalkan seragam yang dibeli dari
perusahaan penyuplai seragam Pan Am, Frank pun jadi co-pilot Pan Am. Dia
menggunakan nama lain yaitu Frank Taylor. Dengan statusnya kini ia bisa mencairkan uang di bank manapun, menggunakan cek
gaji abal-abal yang ia buat sendiri. Ia bahkan bisa sesuka hati mencairkan ceknya, cukup dengan mengubah
nomor routing yang ada di cek tersebut menggunakan mesin yang dinamakan MIRC.
Mesin itu ia dapatkan di kantor pelelangan barang. Perpaduan antara kenekatan dan kejeniusan yang luar
biasa bukan?
Frank William bukanlah anak kebanyakan, ia sangat
menyayangi kedua orang tuanya. Khusus ayahnya, ia bahkan menjadikannya sumber
inspirasi. Ilmu tipu-menipu yang dia punya sesungguhnya tak lepas dari sabda sang ayah “Orang-orang
mudah tertipu”. Begitu pula ketika sang ayah bertanya kepadanya:
“Apa yang membuat
tim Yankees selalu menang, Frank? (Yankees = tim bisbol asal New York)”
“Karena mereka
punya Mickey Mantle?” jawabnya
“Bukan. Karena musuh tak bisa melepaskan perhatian pada seragam belang-belang mereka”.
Secara psikologis, teori yang diajarkan
ayahnya itulah yang dimanfaatkan Frank ketika ia akan ditangkap oleh Carl di
sebuah penginapan di California. Sewaktu Carl masuk ke
kamarnya, bukannya panik, Frank malah bersikap sangat kalem. Ia mengaku sebagai seseorang bernama Barry Allen dari Dinas Rahasia. Carl meminta
kartu identitasnya namun Frank malah memberikan seisi dompetnya kepada Carl.
Disinilah teori seragam belang-belang tim Yankees itu secara jenius ia
praktikkan. Alih-alih memberikan satu kartu ID saja (yang mana dia memang tidak
punya), Frank malah memberikan dompet beserta isinya kepada Carl.
Frank makin menggila. Selama masa
pengejaran oleh Carl, selain menyamar sebagai co-pilot Pan Am, ia menyamar
sebagai dokter. Identitasnya adalah Frank Connors. Ia memalsukan ijazah dengan
mengaku sebagai lulusan Harvard. Pertemuan pertamanya dengan Brenda lah (Amy
Adams) yang membuat dia terinspirasi untuk menjadi dokter. Ups, maksudku
menyamar menjadi dokter. Sejak pertama berjumpa Frank sudah tertarik dengannya.
Frank mengajak Brenda menikah. Meski Brenda sempat menolaknya karena ia
sesungguhnya telah diusir ayahnya dari Rumah karena pernah hamil dan mengaborsi
calon bayinya. Namun Frank meyakinkan Brenda bahwa jika calon suaminya adalah
seorang dokter, mungkin sang ayah akan mengubah pendiriannya.
Bukan Frank William namanya jika tak doyan
berkamuflase. Ketika diajak makan bersama keluarga Brenda, dia melakukan penipuan
secara simultan. Selain dokter, ia mengaku sebagai seorang pengikut Lutheran.
Bahkan dia berani mengaku sebagai sarjana hukum lulusan universitas Berkeley,
yang tak disangka dulunya adalah kampus ayahnya Brenda. Namun dasar Frank
memang dikaruniai Tuhan kelebihan dalam hal mengelak. Dalam posisi terjepitpun
dia sanggup menghindar secara elegan dari pertanyaan ayah Brenda.
“Si Hollingsworth, anjingnya, siapa nama
anjingnya?”
“Emm..Maaf, tapi anjingnya sudah mati”
jawab Frank agak ragu.
“Dokter, pengacara, penganut Lutheran,
siapa sebenarnya dirimu Frank?” Tanya sang calon mertua.
“Aku bukan siapa-siapa. Aku bukan pilot,
bukan pengacara, bukan Lutheran. Aku hanya seorang pemuda yang jatuh cinta pada
anakmu”, jawabnya mempesona.
Alih-alih marah, ayah Brenda malah memuji
Frank sebagai pria romantis. Halo? Bukankah itu jawaban yang sebenarnya?
Bukankah itu jawaban yang jujur? Dasar penipu kau Frank, kejujuranpun bisa kau manfaatkan
sebagai alat untuk menipu. Itu barangkali yang ada di benak sebagian orang
setelah menonton adegan ini.
Karena sudah terlanjur mengaku sebagai
sarjana lulusan hukum dan ingin kembali menggeluti dunia tersebut, Frank
mengikuti ujian pengacara. Frank vakum dari jabatannya sebagai dokter untuk
beberapa bulan.
Jelang hari pernikahannya, ia mendatangi
sang ayah untuk memberi kabar gembira tersebut. Ia menyuruh sang ayah agar
mengajak Ibunya datang ke pesta pernikahannya. Pada saat bertemu itu pula ia
memberi tahu Frank bahwa seorang anggota FBI tengah mencari keberadaannya.
Frank begitu terpukul ketika mendengar dari mulut sang Ayah bahwa ibunya telah
menikah lagi dengan Jack Barnes, pemimpin perkumpulan ayahnya dulu. Frank sedih
dan lari meninggalkan ayahnya.
Pada malam natal tahun itu, sebagaimana
malam-malam natal sebelumnya, Frank menelepon Carl. Memperingatkannya agar tak
lagi mengejarnya. Ia ingin hidup tenang dengan istrinya nanti. Tapi Carl
menolak menyerah. Tepat di malam pernikahan Frank, Carl mendatangi rumah Brenda
untuk menangkapnya. Frank tahu bahwa dirinya akan ditangkap. Oleh karena itu,
ia melarikan diri lewat jendela kamar Brenda. Brenda yang lugu tak mengerti
maksud Frank ketika ia mengungkapkan siapa dirinya yang sesungguhnya. Brenda
bingung mengapa Frank mau lari di malam pernikahan mereka. Sebelum kabur, Frank
meminta Brenda berjanji untuk bertemu dua hari lagi di bandara Miami. Dan
memintanya agar tak ia tak bercerita kepada FBI dimana mereka akan bertemu.
Dua hari setelahnya, Frank benar-benar
melihat Brenda di Bandara Miami. Tapi ia curiga terhadap beberapa orang yang
beraktivitas di sekitar bandara. Frank pun mengurungkan niat menemui Brenda.
Namun hari itu juga, ia berencana untuk merekrut 8 siswi beruntung di sebuah
sekolah untuk menjadi pramugari yang menemaninya keliling Eropa. Ia mengadopsi
gaya pilot pertama yang menginspirasinya dulu. Seorang pilot dengan
pramugari-pramugari cantik disekelilingnya, pasti membuat kerumunan orang
memandangi mereka, dan menghiraukan sang pilot itu sendiri. Lagi-lagi, Frank
membuktikan teori seragam belang-belang tim Yankees. :D
Frank kabur ke kota Montrichard, kota
dimana orang tuanya dulu bertemu. Disana ia mencetak cek palsu lewat sebuah
mesin. Ia ditangkap oleh Carl Hanratty disana. Rasa terima kasih tak terhingga
seharusnya, karena jika bukan Carl, maka polisi Prancis bersenjata lah yang
akan menyambutnya dari gudang tempat ia mencetak cek palsu itu dengan borgol dan mungkin, berondongan peluru.
Setelah diekstradisi, Frank dipenjara di
markas FBI dan menjadi narapidana yang diperbantukan untuk menyelesaikan segala
macam kasus pelanggaran pemalsuan cek. Setelah keluar dari penjara, Frank
William jadi salah satu andalan FBI untuk menyelesaikan kasus pemalsuan cek
yang paling rumit. Dia diakui sebagai salah satu ahli di bidang penyelidikan
pemalsuan cek dan pelanggaran perbankan. Dia juga telah mendesain cek yang aman
dari penipuan, yang digunakan oleh banyak perusahaan. Atas jasanya itu, dia mendapat
pundi-pundi jutaan dolar tiap tahun.
Moral story: penjahat kelas kakap di suatu
bidang, justru akan menjadi penolong penegak hukum ketika dia sudah insaf. Yeah,
for experience is the best teacher.







