Jumat, 07 Oktober 2016

Catch Me If You Can (2002)

Tom Hanks dan Leonardo di Caprio, nama dua bintang besar tersebut semestinya sudah lebih dari cukup untuk menggaransi kualitas film ini. Akan tetapi, satu nama lagi yang bisa jadi makin dapat meyakinkan para calon penonton bahwa film ini benar-benar layak tonton adalah sang sutradara tenar, Steven Spielberg. Film ini termasuk dalam genre film biografi, yang mengangkat kisah hidup seorang mantan penipu ulung medio tahun 1960-an bernama Frank William Abagnale Jr.

Scene awal film yang alurnya bisa dikatakan banyak berjalan mundur ini mengisahkan Carl Hanratty (yang diperankan Tom Hanks), seorang anggota FBI, tengah bernegosiasi dengan kepolisian Prancis untuk mengekstradisi Frank William Abagnale Jr. (diperankan Leonardo di Caprio). Frank adalah seorang penipu yang sangat licin. Kelihaiannya dalam menipu didukung dengan kecerdasannya yang diatas rata-rata, sekaligus ”ketekunannya” dalam mempelajari sesuatu yang berkaitan dengan bidang yang akan dijadikannya sarana untuk menipu.

“Karir” pertama Frank dalam dunia tipu-menipu dimulai ketika ia pindah ke SMA bernama Bellarmine Jefferson. Frank yang baru pertama kali masuk sekolah menanyakan ruang kelas Bahasa Prancis kepada salah satu siswi ketika tiba-tiba dari belakang ada siswa lain yang mendorongnya dengan sengaja. Frank merasa kesal kepadanya. Tak disangka ia ternyata adalah teman sekelas Frank. Siswa bernama Brad itu menggoda Frank dengan mengejek tampilannya yang terlihat seperti guru pengganti. Bingo, rupanya guru utama kelas bahasa Prancis sedang berhalangan hadir. Frank pun memberanikan diri menyamar sebagai guru pengganti bahasa Prancis, dan tak ada satu muridpun yang curiga kepadanya. Merasa diatas angin, Frank gantian mengerjai Brad dengan menyuruhnya membaca percakapan bahasa Prancis di depan kelas.

Frank yang begitu sayang kepada kedua orang tuanya harus menerima kenyataan bahwa keadaan ekonomi ayahnya yang terpuruk mengharuskan kedua orangtuanya berpisah. Alasan yang sama mengapa mereka pindah dari rumah lama mereka di Westbourne. Ketika pengacara perceraian Dick Kesner menanyakan dengan siapa nanti Frank akan tinggal setelah orang tuanya berpisah, Frank melarikan diri. Dari sinilah petualangan Frank dimulai. Perpaduan antara keinginan besar untuk mengembalikan kejayaan ekonomi sang ayah (tentunya agar rumah tangga orang tuanya dapat kembali), ditambah dengan ketekunan, pengalaman dan keuletan, waktu nantinya akan melahirkan orang terhebat Amerika di bidangnya. Maksudku, bidang tipu-menipu tentu saja. Dialah Frank William Abignale Jr.

Diawal pelariannya, dia sering ditolak di berbagai bank ketika ingin menguangkan cek miliknya (cek itu adalah hadiah ulang tahun dari sang ayah yang sudah diatasnamakan dirinya). Alasannya beragam mulai dari bank yang tidak mau mencairkan uang dari bank lain, tidak mau mencairkan dana dari orang tak dikenal. Ia bahkan pernah diusir dari hotel tengah malam karena cek yang diberikannya kosong.

Inspirasi untuk “mengembangkan karir” didapat Frank setelah melihat seorang pilot yang berpenampilan sangat keren, dikelilingi banyak pramugari cantik dan dikagumi anak-anak kecil. Frank William kemudian mengaku sebagai Frank Black dan mempunyai janji untuk mewawancarai Tuan Morgan, seorang pilot Pan Am Airlines. Kesempatan yang tidak dilewatkan begitu saja oleh Frank. Ia menanyakan banyak hal tentang pilot, bukan hal-hal terkait teknis tentu saja karena memang bukan itu tujuan utamanya. Daftar pertanyaannya sangat tendensius, seolah mengejar sebuah kesimpulan: “berapa dollar yang kudapat nantinya jika jadi pilot?”

Yah, bagaikan trik sulap, ia jadi co-pilot Pan Am. Anak ingusan berumur 16 tahun yang bahkan belum tamat SMA. Bermodalkan seragam yang dibeli dari perusahaan penyuplai seragam Pan Am, Frank pun jadi co-pilot Pan Am. Dia menggunakan nama lain yaitu Frank Taylor. Dengan statusnya kini ia bisa mencairkan uang di bank manapun, menggunakan cek gaji abal-abal yang ia buat sendiri. Ia bahkan bisa sesuka hati mencairkan ceknya, cukup dengan mengubah nomor routing yang ada di cek tersebut menggunakan mesin yang dinamakan MIRC. Mesin itu ia dapatkan di kantor pelelangan barang. Perpaduan antara kenekatan dan kejeniusan yang luar biasa bukan?

Frank William bukanlah anak kebanyakan, ia sangat menyayangi kedua orang tuanya. Khusus ayahnya, ia bahkan menjadikannya sumber inspirasi. Ilmu tipu-menipu yang dia punya sesungguhnya tak lepas dari sabda sang ayah “Orang-orang mudah tertipu”. Begitu pula ketika sang ayah bertanya kepadanya:

“Apa yang membuat tim Yankees selalu menang, Frank? (Yankees = tim bisbol asal New York)
“Karena mereka punya Mickey Mantle?” jawabnya
Bukan. Karena musuh tak bisa melepaskan perhatian pada seragam belang-belang mereka”.

Secara psikologis, teori yang diajarkan ayahnya itulah yang dimanfaatkan Frank ketika ia akan ditangkap oleh Carl di sebuah penginapan di California. Sewaktu Carl masuk ke kamarnya, bukannya panik, Frank malah bersikap sangat kalem. Ia mengaku sebagai seseorang bernama Barry Allen dari Dinas Rahasia. Carl meminta kartu identitasnya namun Frank malah memberikan seisi dompetnya kepada Carl. Disinilah teori seragam belang-belang tim Yankees itu secara jenius ia praktikkan. Alih-alih memberikan satu kartu ID saja (yang mana dia memang tidak punya), Frank malah memberikan dompet beserta isinya kepada Carl.
Frank makin menggila. Selama masa pengejaran oleh Carl, selain menyamar sebagai co-pilot Pan Am, ia menyamar sebagai dokter. Identitasnya adalah Frank Connors. Ia memalsukan ijazah dengan mengaku sebagai lulusan Harvard. Pertemuan pertamanya dengan Brenda lah (Amy Adams) yang membuat dia terinspirasi untuk menjadi dokter. Ups, maksudku menyamar menjadi dokter. Sejak pertama berjumpa Frank sudah tertarik dengannya. Frank mengajak Brenda menikah. Meski Brenda sempat menolaknya karena ia sesungguhnya telah diusir ayahnya dari Rumah karena pernah hamil dan mengaborsi calon bayinya. Namun Frank meyakinkan Brenda bahwa jika calon suaminya adalah seorang dokter, mungkin sang ayah akan mengubah pendiriannya.

Bukan Frank William namanya jika tak doyan berkamuflase. Ketika diajak makan bersama keluarga Brenda, dia melakukan penipuan secara simultan. Selain dokter, ia mengaku sebagai seorang pengikut Lutheran. Bahkan dia berani mengaku sebagai sarjana hukum lulusan universitas Berkeley, yang tak disangka dulunya adalah kampus ayahnya Brenda. Namun dasar Frank memang dikaruniai Tuhan kelebihan dalam hal mengelak. Dalam posisi terjepitpun dia sanggup menghindar secara elegan dari pertanyaan ayah Brenda.

“Si Hollingsworth, anjingnya, siapa nama anjingnya?”
“Emm..Maaf, tapi anjingnya sudah mati” jawab Frank agak ragu.
“Dokter, pengacara, penganut Lutheran, siapa sebenarnya dirimu Frank?” Tanya sang calon mertua.
“Aku bukan siapa-siapa. Aku bukan pilot, bukan pengacara, bukan Lutheran. Aku hanya seorang pemuda yang jatuh cinta pada anakmu”, jawabnya mempesona.

Alih-alih marah, ayah Brenda malah memuji Frank sebagai pria romantis. Halo? Bukankah itu jawaban yang sebenarnya? Bukankah itu jawaban yang jujur? Dasar penipu kau Frank, kejujuranpun bisa kau manfaatkan sebagai alat untuk menipu. Itu barangkali yang ada di benak sebagian orang setelah menonton adegan ini.

Karena sudah terlanjur mengaku sebagai sarjana lulusan hukum dan ingin kembali menggeluti dunia tersebut, Frank mengikuti ujian pengacara. Frank vakum dari jabatannya sebagai dokter untuk beberapa bulan.

Jelang hari pernikahannya, ia mendatangi sang ayah untuk memberi kabar gembira tersebut. Ia menyuruh sang ayah agar mengajak Ibunya datang ke pesta pernikahannya. Pada saat bertemu itu pula ia memberi tahu Frank bahwa seorang anggota FBI tengah mencari keberadaannya. Frank begitu terpukul ketika mendengar dari mulut sang Ayah bahwa ibunya telah menikah lagi dengan Jack Barnes, pemimpin perkumpulan ayahnya dulu. Frank sedih dan lari meninggalkan ayahnya.

Pada malam natal tahun itu, sebagaimana malam-malam natal sebelumnya, Frank menelepon Carl. Memperingatkannya agar tak lagi mengejarnya. Ia ingin hidup tenang dengan istrinya nanti. Tapi Carl menolak menyerah. Tepat di malam pernikahan Frank, Carl mendatangi rumah Brenda untuk menangkapnya. Frank tahu bahwa dirinya akan ditangkap. Oleh karena itu, ia melarikan diri lewat jendela kamar Brenda. Brenda yang lugu tak mengerti maksud Frank ketika ia mengungkapkan siapa dirinya yang sesungguhnya. Brenda bingung mengapa Frank mau lari di malam pernikahan mereka. Sebelum kabur, Frank meminta Brenda berjanji untuk bertemu dua hari lagi di bandara Miami. Dan memintanya agar tak ia tak bercerita kepada FBI dimana mereka akan bertemu.

Dua hari setelahnya, Frank benar-benar melihat Brenda di Bandara Miami. Tapi ia curiga terhadap beberapa orang yang beraktivitas di sekitar bandara. Frank pun mengurungkan niat menemui Brenda. Namun hari itu juga, ia berencana untuk merekrut 8 siswi beruntung di sebuah sekolah untuk menjadi pramugari yang menemaninya keliling Eropa. Ia mengadopsi gaya pilot pertama yang menginspirasinya dulu. Seorang pilot dengan pramugari-pramugari cantik disekelilingnya, pasti membuat kerumunan orang memandangi mereka, dan menghiraukan sang pilot itu sendiri. Lagi-lagi, Frank membuktikan teori seragam belang-belang tim Yankees. :D


Frank kabur ke kota Montrichard, kota dimana orang tuanya dulu bertemu. Disana ia mencetak cek palsu lewat sebuah mesin. Ia ditangkap oleh Carl Hanratty disana. Rasa terima kasih tak terhingga seharusnya, karena jika bukan Carl, maka polisi Prancis bersenjata lah yang akan menyambutnya dari gudang tempat ia mencetak cek palsu itu dengan borgol dan mungkin, berondongan peluru.

Setelah diekstradisi, Frank dipenjara di markas FBI dan menjadi narapidana yang diperbantukan untuk menyelesaikan segala macam kasus pelanggaran pemalsuan cek. Setelah keluar dari penjara, Frank William jadi salah satu andalan FBI untuk menyelesaikan kasus pemalsuan cek yang paling rumit. Dia diakui sebagai salah satu ahli di bidang penyelidikan pemalsuan cek dan pelanggaran perbankan. Dia juga telah mendesain cek yang aman dari penipuan, yang digunakan oleh banyak perusahaan. Atas jasanya itu, dia mendapat pundi-pundi jutaan dolar tiap tahun.

Moral story: penjahat kelas kakap di suatu bidang, justru akan menjadi penolong penegak hukum ketika dia sudah insaf. Yeah, for experience is the best teacher.

Well done, Frank!